In Memoriam KH. S. Chabibullah Idris Bagian 4

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

MBAH CHABIB DAN TRADISI PENGARSIPAN DOKUMEN

Oleh: Edi Rohani, M. Pd. I

(Sekretaris LP Ma’arif NU Cabang Wonosobo, santri mustami’ Mbah Chabib)

 

nuwonosobo.com – Jujur harus diakui bahwa salah satu hal yang sementara waktu kurang mendapat perhatian NU Wonosobo adalah tradisi pendokumentasian dan penulisan atas suatu hal atau peristiwa yang dilakukan NU Wonosobo dan banomnya. Kalaupun didokumentasikan dan ditulis dengan baik, terkadang hasil dokumentasi dan tulisan tidak tersimpan dengan baik. Hal ini tidak saja disebabkan belum adanya tenaga yang secara khusus menangani arsip dan dokumen, namun juga belum tersedianya gedung atau ruang khusus untuk menyimpan dan menata arsip. Semua arsip yang ada hanya disimpan di tumpukan almari yang tidak tertata dengan baik.

Kondisi ini, jika tidak ditangani dengan serius, tentu saja akan merugikan NU secara organisatoris, sebab kontribusi dan peranannya dalam menjalankan roda organisasi dan mengawal dinamika perubahan sosial kemasyarakatan yang dilakukannya tidak bisa terlacak dengan baik. Akibatnya saat akan ‘melihat’ masa lampau, yang terjadi hanya sebatas perkiraan, bahwa pada kisaran tahun sekian, NU mencanangkan ini dan itu, dan seterusnya.

Di sinilah pentingnya dokumentasi dan arsip itu. Sebab masa lampau bukan merupakan suatu masa yang final, terhenti, dan tertutup. Masa lampau itu bersifat terbuka dan berkesinambungan. Sehingga dalam sejarah, masa lampau perjalanan suatu organisasi (dan seseorang) bukan demi masa lampau itu sendiri dan dilupakan begitu saja, namun berkesinambungan dengan masa kini. Dengan kata lain, apa yang terjadi di masa lampau dapat dijadikan gambaran bagi kita untuk bertindak di masa sekarang dan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Sehingga, peristiwa yang telah terjadi di masa lampau dapat digunakan sebagai modal bertindak di masa kini dan menjadi acuan untuk perencanaan di masa yang akan datang. Perkembangan sejarah seseorang atau suatu organisasi akan mempengaruhi perkembangan-perkembangan organisasi di masa kini dan masa yang akan datang.

Dalam hal ini, sejarah dapat memberikan inspirasi bagi kita. Berikutnya dalam mempelajari dinamika perjalanan organisasi, kita akan memperoleh kesenangan berupa nostalgia dan lawatan spiritual ke masa silam. Dengan membaca sejarah NU Wonosobo, misalnya, kita dapat melihat dan mengetahui berbagai peristiwa, peninggalan unik serta peradaban yang telah ditorehkan oleh PCNU di masa silam.

Sampai saat ini, kita belum menemukan dokumen paling otentik tentang pendirian NU di Wonosobo, selain perkiraan tahun 1933 yang ditulis oleh Ahmad Muzan dalam buku Sejarah dan Wacana Pemikiriran Keislaman (2003), Bunga Rampai NU Wonosobo (2012), dan Fragmen Sejarah NU Wonosobo (2017). Tesis Ahmad Muzan ini hanya berdasar pada cerita lisan para pelaku dan bukti kartu tanda anggota NU (rosyidul ‘udwiyah) Kiai Muhammad Sangidun Kreo yang ditanda tangani Mbah Hasyim dan Mbah Wahab bertahun 1933. Belum diketemukan data otentik mengenai hari, tanggal dan tahun pelantikan PCNU Wonosobo pertama kali di rumah Sayyid Ibrahim bin Ali ataupun data mengenai waktu pembentukan pengurus PCNU pertama yang menetapkan Sayyid Ibrahim sebagai Rais Syuriah, Sayyid Muhsin sebagai Katib Syuriah, serta Atmodimedjo-Abu Bakar, masing-masing sebagai Ketua dan Sekretaris Tanfidziyah.

Pun demikian, masa-masa sesudahnya, dalam kepemimpinan Kyai Abu Djamro sampai era Mbah Muntaha-Mbah Chabib memimpin NU Wonosobo pada 1971, belum diketemukan data tentang dimana dan kapan pelaksanaan Konferensi Cabang, bagaimana perjalanannya, peristiwa apa yang dialaminya, bagaimana konsolidasi pembentukan MWC serta ranting, siapa yang terlibat di dalamnya dan sebagainya. Data yang pernah penulis lihat di PCNU Wonosobo, catatan-catatan dan arsip kegiatan PCNU baru mulai tersimpan di masa kepemimpinan KH. R. Mu’tiqun Asnawi-KH. Muchotob Hamzah (2001) dan seterusnya. Itupun belum sepenuhnya terarsip.

Ini baru PCNU, belum lagi dokumen-dokumen badan otonom (banom) NU yang juga amburadul dan tidak tertata dengan baik. Oleh karenanya, adalah tugas kita semua, para generasi penerus untuk melacak dan menggali arsip serta data perjalanan dan dinamika NU Wonosobo ini dari para pelaku sejarah yang masih sugeng, dan serpihan-serpihan dokumen yang tersebar di berbagai tempat.

Berawal dari kondisi ini, penting bagi kita untuk meneladani Mbah Chabib dalam hal mendokumentasikan dan merawat semua hal yang terkait dengan organisasi. Mbah Chabib pernah bercerita, bahwa beliau menyimpan semua surat undangan, stensilan, lembaran-lembaran dan catatan-catatan tentang NU di perpustakaan pribadi ndalemnya. Pendek kata, segala hal yang terkait dengan NU yang dialami dan dilakukan beliau tersimpan dengan rapi. Beliau pernah juga menawari penulis ini untuk sekedar melihat stensilan tulisan beliau yang disampaikan untuk mengisi acara kaderisasi IPNU dan Ansor.  Beliau juga mengoleksi stensilan dan catatan Mbah Muntaha, sahabat karibnya, yang disampaikan di berbagai acara. Mbah Chabib pernah memberikan foto copy tulisan Mbah Mun yang dikoleksinya kepada penulis. Stensilan berbahasa Arab sejumlah tiga halaman tanpa judul itu berisikan tentang pokok-pokok ajaran Ahlussunnah waljama’ah (Aswaja) dan transmisi keilmuan Aswaja dari Nabi Muhammad SAW sampai ke Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Sebagian isi tulisan ini pernah saya kutip di buku kaderisasi PC Ansor Wonosobo, Kepemimpinan Demokratis-Transformatif (2015).

Sebegitu pentingnya dokumentasi dan arsip bagi Mbah Chabib, sehingga pada sambutan Muskercab NU, 17 Desember yang lalu, beliau bercerita bahwa ia sempat nangis mrebes mili, saat mengetahui berbagai dokumen dan arsip yang diserahkan ke PCNU Wonosobo untuk disimpan dan dirawat, ternyata tidak terurus dan hilang sebagian. “Ngertio tak simpan dewe, tahu begini kejadiannya, lebih baik saya simpan sendiri” demikian penyesalan beliau.

Lebih lanjut, dalam kontes pengarsipan ini, beliau berpesan, “pengurus NU harus mampu meningkatkan kualitas pengurus sebagai administrator yang profesional. Apapun bentuk kegiatan yang dilakukan harus terdokumentasi dengan baik, sebagai bahan evaluasi dan pengembangan secara terus-menerus.” Atau pesan Mbah Chabib pada sahabat saya, Ahmad Nadhir, “monggo, tulis dan arsipkan setiap kegiatan. Disertai waktu, tempat dan uraian. Hari ini mungkin tidak terasa penting, tetapi sepuluh, dua puluh tahun kemudian, arsip itu bisa menjadi kompas sejarah bagi generasi-generasi berikutnya.”

Belajar dari Mbah Chabib, sudah saatnya kita tertib administrasi dalam artian lebih luas, semua kegiatan organisasi harus terdokumen dengan baik, termasuk juga foto-foto kegiatan dan sebagainya agar perjalanan organisasi dapat terus dievaluasi dan dibaca oleh generasi setelahnya untuk merumuskan strategi yang lebih baik di masa mendatang.

Kepil, 27 Desember 2017

Tabi’

(MNI/LTNNU)