In Memoriam KH. S. Chabibullah Idris Bagian 3

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

KIAI PEJUANG PENDIDIKAN DI WONOSOBO
Oleh: Edi Rohani, M.Pd.I
(Sekretaris LP Maarif NU Cabang Wonosobo, Santri Mustami’ Mbah Chabib)

nuwonosobo.com – “Mautul ‘alim mautul ‘alam, wafatnya seorang ‘alim ibarat matinya jagat raya.” Tepat kiranya jika atsar Sayyidina Umar bin Khattab RA ini disematkan untuk pribadi kyai guru kita, Mbah Chabib tercinta. Betapa tidak, sampai saat ini, penulis masih terus merasakan kehadiran beliau membimbing dan menuntun kita semua. Penulis masih ingat betul bagaimana semangat beliau dalam membersamai Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) PCNU Wonosobo, meskipun dalam kondisi sakit dan ‘mbolos’ dari RSI demi menyampaikan pesan-pesan terakhirnya. Pekik merdeka-nya terus terngiang di telinga.

Ya, beliau adalah pelita penerang warga NU dan umat Islam, sehingga umat menjadikannya sebagai panutan dalam laku kehidupan. Kealiman, kerendah hatian, dan keteladanan Mbah Chabib selalu tercatat di hati sanubari para santri dan umat Islam, serta masyarakat luas.

Ketua MUI Jawa Tengah ini merupakan tokoh yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan. Melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomor : 041.042.043/Tanda Kehormatan/2009 yang dibacakan oleh Sekretaris Militer Mayor Jenderal Budiman pada Sabtu, 15 Agustus 2009 di Istana Negara, Mbah Chabib merupakan satu dari tiga orang (Sarwoto Atmosutarno, Hj. Siti Nurhidayati, S.E, dan KH. Chabibullah Idris) yang mendapat tanda Jasa Nararya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penetapan tersebut didasari atas kontribusi, jasa, peran dan kepeduliannya terhadap pendidikan dan kemanusiaan.

Tanda jasa, menurut pengertian Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, adalah penghargaan negara yang diberikan presiden kepada seseorang yang berjasa dan berprestasi luar biasa dalam mengembangkan dan memajukan suatu bidang tertentu yang bermanfaat besar bagi bangsa dan negara. Secara umum, tanda jasa merupakan penghargaan atas prestasi dalam bidang-bidang non-militer, yaitu pendidikan, ekonomi, olahraga, budaya.

Mbah Chabib tidak saja menaruh perhatian terhadap kemajuan pendidikan, namun juga selalu menginfakkan tenaga, pikiran dan hartanya untuk cita-cita luhur harmoni kehidupan dan kemanusiaan, demi tegaknya NKRI dalam bingkai keragaman. Banyak tokoh umat agama lain sowan pada beliau untuk sekedar berkeluh kesah, meminta masukan dan bimbingan beliau. Sehingga tidak mengherankan bila Wonosobo kemudian dicanangkan sebagai Kabupaten Ramah HAM, sejak 2013 yang lalu oleh Bupati Kholiq Arief.

Inspirasi Wonosobo sebagai kota ramah HAM dilandasi atas dasar bahwa Wonosobo layak dihuni oleh semua golongan dengan mendapatkan pelayanan kebutuhan dasar yang sama sebagai warga negara. Beragam komunitas dapat hidup berdampingan di kota kecil ini, pemeluk Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Ahmadiyah, Syiah dan sebagainya selalu bergandeng tangan untuk membangun Wonosobo, tanpa adanya sekat apapun. Pendek kata, warga Wonosobo tidak mengenal minoritas dan mayoritas.

Suatu ketika, Mbah Chabib pernah menyampaikan “Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, saat ada beda tafsir, semisal Syiah dan Ahmadiyah, saya berikan pemahaman pada masyarakat. Kita kembali kepada misi kemanusiaan, bahwa semua manusia, apapun jenis kelaminnya, apa pun warna kulitnya, apa pun derajat pangkatnya, adalah sama dari sisi kemanusiaan.”

Hal yang hampir serupa disampaikan Mbah Chabib dalam acara “Tatap Muka dan Buka Bersama Kapolres Wonosobo dengan Tokoh Agama se-Kabupaten Wonosobo” di Pesantren Al-Mubarrok Manggisan, Kamis (8/06).

“Masyarakat Wonosobo sangat kental dengan berbagai budaya baik Islam, Kristen, Hindu maupun Budha namun tidak pernah terjadi perselisihan sejak dulu. Hal inilah yang harus kita jaga bersama. Kesadaran bahwa keanekaragaman Indonesia yang terdiri dari berbagai macam ras, suku, agama namun harus bersatu dalam satu Negara Kesatuan di bawah ideologi Pancasila harus ditanamkan di masyarakat,” terang KH. Chabibullah Idris. Pemahaman terhadap Alquran sejak dini, lanjutnya, juga menjadi langkah awal agar kedepannya tidak terjadi salah mengartikan dan membuat seseorang salah menentukan langkah.

Meskipun Mbah Chabib hanya memperoleh pendidikan di bangku pesantren, namun wawasannya sangat luas dan kosmopolit. Sehingga beliau dapat menerapkan prinsip-prinsip universal ajaran Islam dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa memandang asal-usul, ras dan golongan. Baginya, hakekat ilmu adalah rasa bodoh dan rasa ingin tahu yang tinggi, ghayatul ‘ilmi al-jahlu, puncak pengetahuan ada pada ketidaktahuan yang terus-menerus. Artinya, seseorang yang cinta ilmu, ia tidak akan pernah puas dan berhenti belajar. Oleh karenanya, beliau telah mengajarkan pada kita semua akan arti pentingnya long life education, atau yang dalam bahasa hadits Nabi disebutkan uthlubul ilma mina-l mahdi ila-l lahdi, carilah ilmu dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Demikian salah satu pesan yang penulis tangkap dari sambutan beliau di Muskercab PCNU Wonosobo, Ahad (17/12).

Bagi kita semua, Mbah Chabib adalah pengayom dan pelindung semua golongan dalam harmoni dan bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merdeka!

Lahul Fatihah ….

Bersambung ke bagian 4 ….

(MNI/LTNNU)