In Memoriam KH. S. Chabibullah Idris Bagian 2

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

KIAI PEJUANG PENDIDIKAN DI WONOSOBO
Oleh: Edi Rohani, M.Pd.I
(Sekretaris LP Maarif NU Cabang Wonosobo, Santri Mustami’ Mbah Chabib)

 

Bagi warga NU Wonosobo, wafatnya Mbah Chabib merupakan suatu duka yang mendalam, sebab selepas meninggalnya Mbah Muntaha, pada 29 Desember 2004, satu-satunya sandaran yang selalu mendampingi perjalanan dan dinamika NU Wonosobo adalah Mbah Chabib ini. Para pengurus PCNU, baik syuriah maupun tanfidziyah beserta banomnya, menjadikan Mbah Chabib sebagai rujukan utama dalam menjalankan roda organisasi. Hal ini sangat dimungkinkan, sebab beliau merupakan sosok yang terlibat dalam perjalanan PCNU, dengan segala pahit getirnya, semenjak tahun 1962.

Sebagai santri mustami’-nya semenjak tahun 1996, penulis akan melanjutkan sekelumit dari apa yang penulis dengar dan saksikan dari pribadi ulama’ sepuh ini.
Sebagaimana penulis tulis pada bagian pertama, Mbah Chabib memang merupakan seorang tokoh yang sangat peduli terhadap pendidikan di Wonosobo. Bersama sahabat karibnya, Mbah Muntaha, beliau mendirikan berbagai lembaga pendidikan formal dan non formal. Bermula dari diskusi panjang Mbah Mun dengan Mbah Chabib dan para tokoh lainnya, terutama menyangkut permasalahan dan problematika yang dihadapi warga NU Wonosobo. Karena merasa sepemahaman dan sangat tertarik dengan ide, gagasan mereka berdua, warga NU memutuskan untuk menjadikan Mbah Muntaha sebagai Rois Syuriah dan Mbah Chabib sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Wonosobo pada Konferensi Cabang PCNU Tahun 1971. Duet keduanya menjadikan NU dapat bergelut dengan dinamika perubahan jaman, terutama pada masa-masa Orde Baru.

Di bawah kepemimpinan Mbah Mun-Mbah Chabib, PCNU Wonosobo mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini dapat dilihat dari terbentuknya kepengurusan ranting NU yang solid di seluruh pelosok desa, dan madrasah/sekolah Ma’arif berdiri di mana-mana. Selain itu, sedikit demi sedikit, NU Wonosobo mulai dikenal sebagai organisasi yang menaruh perhatian mendalam di bidang peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) anggotanya, yang dalam bahasa Mbah Chabib disebut sebagai proses kaderisasi terus menerus dan berkesinambungan untuk meningkatkan “hamasyah nahdliyah wal wathaniyah” (komitmen ke-NU-an dan kebangsaan).

Pada tanggal 30 Januari 1988, bersama Mbah Muntaha, para ulama, pejabat Provinsi Jawa Tengah dan pejabat lingkungan Kabupaten Wonosobo, Mbah Chabib mendirikan IIQ (Institut Ilmu al-Qur’an) Jawa Tengah di Wonosobo, yang sekarang menjadi UNSIQ (Universitas Sains al-Qur’an) Jawa Tengah dengan puluhan jurusan di dalamnya. Bahkan hingga wafatnya, Mbah Chabib masih tercatat aktif sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu al-Qur’an (YPIIQ) yang menaungi UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo ini.

Saat khidmah mendampingi Mbah Muntaha mengasuh PPTQ Al-Asy’ariyah Kalibeber, sebagai Ketua Yayasan al-Asy’ariyah, Mbah Chabib membantu pendirian dan pengembangan SMP dan SMA Takhassus al-Qur’an (1989), SMK Takhassus al-Qur’an (2002), SD Takhassus al-Qur’an (2002) dan sebagainya. Sepeninggal Mbah Mun pada penghujung 2004, Mbah Chabib terus berjuang mendampingi para kadernya untuk mendirikan lembaga pendidikan. Setidaknya Mbah Chabib terlibat dalam pendirian SMP-SMK Nusantara, SMK Andalusia, TK, SD-SMP Al Madina Wonosobo dan sebagainya.
Kenapa Mbah Chabib begitu gigih berjuang di jalur pendidikan?

Menurut beliau, pendidikan merupakan suatu hal yang mutlak untuk dilakukan. Melalui pendidikan ini pula terlihat maju mundurnya suatu peradaban. Beliau sering pula memberikan motivasi bagi para santrinya bahwa “khairunnas yamsyi ‘ala wajhil ardhi al-mu’allim, sebaik-baik umat yang berjalan di muka bumi adalah pendidik,” sebab para pendidik merupakan orang yang mengajarkan pengetahuan dan menyebarkannya untuk kemakmuran dan kemajuan umat.

Pada kesempatan sarasehan dengan Tim Kaderisasi PC GP Ansor Wonosobo, pada 7 Desember 2014, Mbah Chabib menyampaikan kepada penulis, “Kaderisasi lewat jalur pendidikan adalah mutlak untuk dilakukan. Semua harus melalui proses pendidikan, kita harus pandai memanfaatkan madrasah dan sekolah milik NU untuk pendidikan dan pengkaderan. Manfaatkan MI, MTs, Madin, TPQ dan lain sebagainya yang dimiliki NU. Oleh karenanya, kaderisasi juga harus menjalin kerjasama dengan LP Maarif NU, terutama untuk kaderisasi dasar di tingkatan IPNU/IPPNU. Saya pernah marah-marah (karena ada pengurus LP Ma’arif yang menolak kaderisasi). Akan tetapi, akhirnya mereka baik dan dapat menerima atas kemarahan saya. Tujuan saya marah itu supaya ada kepedulian dari LP Ma’arif NU untuk melakukan kaderisasi lewat pendidikan yang jelas, terukur dan berkualitas.”

Kepedulian beliau terhadap pendidikan tidak hanya sebatas perkataan, namun juga tindakan langsung. Menurut penuturan beliau pada penulis, di era 1975an, Kecamatan Garung, Mojotengah, dan Kalikajar merupakan kecamatan yang paling merosot pendidikannya. Warga NU di ketiga kecamatan tersebut susah diajak maju dan tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka. “Saya sampai mengatakan, percuma Kecamatan Garung menang PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Tetapi tidak mampu membuat Camat, Kepala Desa, dan lain sebagainya. Kenapa mereka tidak bisa? Karena mereka tidak punya ijazah formal sebagai persyaratan administrasi. Hingga kemudian di Kecamatan Kejajar, almarhum mbah Nasir Dalhar mendirikan MI, MTs, dan lain-lain. Kecamatan Mojotengah juga sulit untuk didirikan madrasah, termasuk juga Kecamatan Kalikajar. Namun lambat laun, melalui perjuangan panjang, akhirnya mereka sadar sekolah, sadar pendidikan. NU itu harus ngaji juga sekolah, keduanya harus dilakukan bersamaan. Sebab apa? Bila mendirikan madrasah atau sekolah formal, pendidikan kaderisasi diterobos dan bisa dilakukan lewat sekolah-sekolah NU itu. Dengan demikian, tidak terasa mereka belajar formal, sembari dikader Aswaja NU, sambil ditanamkan prinsip-prinsip NU.”

Oleh karenanya, tanpa mengerdilkan peranan tokoh lainnya, menurut hemat penulis, Mbah Chabib adalah pendobrak pola pikir akan kesadaran pendidikan bagi warga NU Wonosobo. Sungguh besar kontribusi beliau bagi kemajuan NU Wonosobo dan Bangsa Indonesia. Sampai akhirnya, Sabtu (23/12) Pukul 02.30, Warga NU Wonosobo gempar mendengar berita Mbah Chabib kapundhut, dalam usia 81 tahun. Semoga amal jariyah beliau senantiasa menyertai dalam alam keabadian.

Bersambung ke bagian 3 ….

(MNI/LTNNU)