Pelantikan Pengurus MWCNU Kalikajar Masa Khidmat 2017-2022

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

nuwonosobo.com – Sekitar Pukul 10.00 WIB, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Wonosobo, KH. Arifin Shiddiq bersama beberapa Pengurus PCNU Wonosobo hadir dalam pelantikan jajaran pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kalikajar, Sabtu (15/7). Bertempat di Masjid Bunyaanul Huda Desa Kembaran, Kecamatan Kalikajar. Pelantikan tersebut juga bersama dengan jajaran pengurus yang lainnya sebagai penguat keorganisasian MWCNU Kalikajar Masa Khidmat 2017-2022. Terpilih sebagai Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah MWCNU Kalikajar KH. Sobar Usman dan Tambah Yuwono, S.Kom.I.

 

 

Dalam sambutannya, Ketua PCNU Kabupaten Wonosobo, KH. Arifin Shiddiq menyampaikan berbagai pandangan dan gambaran gerakan jajaran pengurus PCNU Wonosobo di Masa Khidmat 2017 – 2022. Menurutnya, dua program prioritas dalam periode kepemimpinannya adalah penguatan ideologisasi dan pemberdayaan ekonomi warga NU. Dua program prioritas tersebut sesuai dengan kebutuhan jam’iyyah dan jama’ah saat ini. Hari ini ungkap beliau, Indonesia dan Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi tantangan ideologi yang mengancam keutuhan bangsa seperti radikalisasi dan fundamentalisme yang tidak sesuai dengan ruh Nahdlatul Ulama.

NU sebagai penjaga bangsa harus ekstra keras menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ideologi pengganggu tersebut. Apalagi akhir-akhir ini ada framing tertentu untuk memojokkan NU. Beliau menghimbau supaya Pengurus MWCNU Kalikajar yang baru dilantik tetap istiqomah dalam perjuangan penguatan ASWAJA, khusunya di daerah lintas perbatasan Gunung Sumbing. Pada program ekonomi, kembali Ketua PCNU mengingatkan akan kegiatan pengembangan Program NU Peduli yang digagas PCNU Wonosobo melalui pengumpulan koin dari Nahdliyyin.

Sementara itu, Mustasyar PCNU Wonosobo, KH. Muchotob Hamzah dalam sambutannya lebih banyak menyampaikan penguatan ideologi NU. NU dengan ideologi Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja), akan sekuat tenaga menjaga NKRI. “Bagi NU, NKRI adalah harga mati. Tidak ada tawar menawar untuk khilafah atau bentuk negara lainnya,” tegas Bah Chotob, sapaan akrab beliau. Beliau juga menyampaikan agar warga NU benar-benar mengikuti pemahaman Aswaja Annahdliyah secara utuh. Dalam amar ma’ruf nahi munkar. Misalnya, harus bil ma’ruf bukan bil munkar. Beliau berharap, masyarakat Kalikajar khususnya, benar-benar menjadi warga NU 24 karat. Amaliyah, ubudiyah, dan harakah-nya harus NU. Warga NU juga hendaknya tidak grasa-grusu dan menjunjung tinggi akhlaqul karimah dalam hidup sosial dan berbangsa. Kalau sebaliknya, berarti bukan warga NU yang paripurna. (MNI/LTNNU)