Masjid Bunyaanul Huda : Sekilas Sejarah Tempat Pelantikan Pengurus MWCNU Kalikajar Wonosobo

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

nuwonosobo.com – Masih berkaitan dengan Acara Pelantikan Pengurus MWCNU Kalikajar oleh Pengurus PCNU Wonosobo, sabtu(15/7). Ada hal yang menarik dari masjid tempat dilaksanakannya pelantikan tersebut. Masjid Bunyaanul Hudaa merupakan salah satu masjid tua di kawasan Kabupaten Wonosobo. Berdasarkan data yang diperoleh dari dokumen KUA Kecamatan Kalikajar serta penuturan dari sesepuh dan tokoh masyarakat Kembaran, masjid yang terletak di Jalan Ronggolawe Desa Kembaran ini didirikan sekitar tahun 1842 M. Berdirinya masjid ini tidak lepas dari peran seorang ulama yang berdakwah di daerah Kembaran pada masa itu yang dikenal masyarakat dengan sebutan Mbah Kyai Raden Santri.

 

 

Beliau inilah yang telah berjuang dan membimbing masyarakat yang pada masa itu masih kental dengan tradisi hinduisme hingga menjadi masyarakat yang islami. Kyai Raden Santri berdakwah di daerah ini hingga akhir hayat beliau dan dimakamkan di pemakaman umum Semunggang Desa Maduretno Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo. Meskipun beliau telah tiada, akan tetapi masyarakat masih menghormati dan mengenangnya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang berziarah ke makam beliau terutama pada Hari Kamis atau Jum’at, tiap pekannya. Mengenai nama Kyai Raden Santri, adakah keterkaitan dengan nama Kyai Raden Santri Gunung Pring Muntilan? wallahu a’lam, karena sampai saat ini belum ada kajian ilmiah tentang hal  tersebut.

Sepeninggal Kyai Raden Santri, dakwah di Desa Kembaran dilanjutkan oleh para ulama Ahlussunah Wal Jama’ah Annahdliyyah, diantaranya KH. Abdul Hamid dari Krompakan Magelang, lalu dilanjutkan oleh KH. Dimyati (Kaliwiro, Wonosobo), kemudian dilanjutkan oleh Kyai Abdullah Umar. Hingga akhirnya tugas dakwah dilanjutkan oleh Kyai Sonhaji. Setelah Kyai Sonhaji wafat, estafet dakwah di Desa Kembaran dilanjutkan oleh Kyai Sobar Usman yang tidak lain adalah menantu dari Kyai Sonhaji hingga saat ini.

Guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang 100% adalah muslim Ahlussunah Wal Jama’ah Annahdliyyah, sejak berdiri hingga saat ini telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1920. Pada Tahun 1965 saat kepemimpinan dipegang oleh Kyai Sonhaji, pemugaran kedua dilakukan. Pada pemugaran kedua ini pembangunan sudah menggunakan batu kali dan semen merah, yang dibuat dari pecahan genting yang dihaluskan. Desain masjid saat itu digambar oleh Kyai Sonhaji, dan dikerjakan oleh tukang – tukang dari Desa Kembaran sendiri.

Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan penduduk tidak dapat dihindari lagi. Bangunan masjidpun tidak mampu menampung jama’ah yang semakin banyak. Terutama saat Salat Jumat maupun Idul Adha dan Idul Fitri. Dan pada Tahun 2003, pembangunan dan pelebaran Masjid Bunyaanul Hudaa dimulai.

Dengan semangat gotong royong yang masih kental, Masyarakat Kembaran bahu membahu membangun masjid, demi terpenuhinya kebutuhan sarana peribadatan yang memadai. Setelah memakan waktu selama 4 tahun, dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007, yang berdiri di atas lahan seluas 1270 m2, masjid dua lantai seluas 528 m2 akhirnya selesai pengerjaannya. Pengerjaan tersebut menghabiskan total biaya sekitar Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah) bersumber dari swadaya murni masyarakat Kembaran. Masjid Bunyaanul Hudaa diresmikan penggunaannya oleh Bupati Wonosobo saat itu,  H. Abdul Kholiq Arif pada tanggal 15 April 2007. Kini masyarakat Kembaran telah memiliki sebuah masjid yang indah dan megah yang diharapkan dapat menjadi mercusuar dakwah di Kembaran dan sekitarnya. Dan mudah-mudahan sebagai pusat dakwah Ahlussunah Wal Jama’ah Annahdliyyah di Desa Kembaran pada khususnya dan masyarakat Kalikajar pada umumnya. Dengan menjadikan Masjid yang berlabelkan Nahdlatul Ulama.

Sumber : http://bunyaanulhudaa.blogspot.co.id/2013/10/selayang-pandang-masjid-bunyaanul-hudaa.html dengan penambahan yang diperlukan