Menimbang (Rencana) Penerapan Full Day School

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Oleh: Edi Rohani, M. Pd.I*)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud RI), Prof. Dr. Muhadjir Effendy sedang menggodok Permendikbud sebagai dasar kebijakan sekolah lima hari dalam sepekan yang rencananya akan diimplementasikan secara nasional pada tahun ajaran 2017/2018(Republika, 8/6). Dengan sekolah sepanjang hari atau full day school ini siswa akan berada di sekolah dari pukul 07.00 sampai 16.00 WIB.

Karena rencana Mendikbud menerapkan kebijakan full day schoolini sedang hangat-hangatnya, saya kemudian tertarik untuk sekedar urun rembug dan memberikan perspektif yang semoga saja ada manfaatnya. Urun rembug ini juga telah saya lakukan di akun facebook pribadi saya sejak beberapa hari terakhir. Apa yang saya tulis di facebook tersebut kemudian mendapat tanggapan dari seratusan teman, yang dalam amatan saya, 100 % menolak kebijakan full day schoolini dengan berbagai alasan mereka.

Menurut Mendikbud, kebijakan sekolah lima hari dalam satu pekan inimerupakan bagian dari program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan menghindarkan siswa dari kegiatan-kegiatan negatif di luar lingkungan sekolah. Kebijakan ini sebetulnya bukan hal baru, karena telah diujicoba di beberapa sekolah sejak tahun 2016 yang lalu. Kendati demikian, kebijakan ini tentu masih mengandung pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat.

Bagi yang pro, misalnya, akan beralasan bahwa penerapan full day school merupakan cara yang efektif dalam membentuk karakter peserta didik. Memang harus jujur diakui bahwa dengan diterapkannya full day school, maka otomatis siswa akan menghabiskan lebih banyak waktunya di sekolah. Hal ini akan memudahkan guru dalam mengontrol dan mengawasi perilaku siswanya dan akan meminimalisir pengaruh yang tidak baik dari lingkungan sekitar. Dengan diberlakukannya full day school, maka guru memiliki lebih banyak waktu untuk mengawasi siswa di sekolah. Selain itu, full day schoolmembuat siswa memiliki waktu lebih banyak untuk belajar di sekolah, termasuk juga menggiatkan kegiatan ekstrakurikuler.

 Kemadlaratan

Selain nilai manfaat atau kelebihan dari full day schooldi atas, tentunya juga terdapat kemadlaratan (kekurangan) di dalamnya, bahkan dalam hemat saya, kemadlaratannya lebih besar daripada nilai manfaat yang didapat, atau dalam bahasa Arabnya, yas’alunaka ‘an full day school. Qul fiha itsmun kabir wa manafi’un linnas. Wa itsmuha akbaru min naf’iha, mereka (masyarakat) bertanya kepadamu tentang full day school. Katakanlah, di dalam full day school terdapat ‘itsmun’ (kemadlaratan) dan manfaat untuk manusia, namun madharatnya lebih bersar dari manfaat yang didapat.”

Lalu, apakah kemadlaratan dan kekurangan dari full day schoolitu?

Beberapa di antaranya adalah, pertama, membebani siswa. Kemampuan otak anak untuk menerima pelajaran memiliki batas tertentu. Salah Satu dampak negatif full day school atau kekurangan full day school ialah karena kemampuan otak anak untuk belajar memiliki batas tertentu, belajar yang dilakukan dalam jangka waktu lama akan mengganggu psikologi anak. Full day schoolyang mengharuskan anak tinggal di sekolah mulai jam 7.00-16.00 WIBdikhawatirkan akan membuat anak jenuh dan susah menangkap pelajaran karena telah kecapekan. Selain itu, siswa dihadapkan pada tantangan ketahanan fisik. Perubahan jam sekolah menjadi lebih panjang bisa membuat siswa lelah, terlebih bagi yang berusia dini. Sementara anak-anak membutuhkan istirahat yang cukup agar bisa berkonsentrasi secara maksimal. Secara psikologis, penambahan jam belajar juga akan berpengaruh terhadap tingkat stres anak. Banyaknya beban bisa mempengaruh aspek ini. Pun, siswa sekolah dasar cenderung mudah bosan. Mereka membutuhkan sarana lain untuk melepas kebosanan yang mungkin bisa didapat melalui lingkungan di luar sekolah, seperti teman di rumah ataupun keluarga, Dengan adanya full day schoolini, kehidupan sosialisasi anak dengan teman dan keluarga di rumah pun turut terancam.

Kedua, belum memadahinya sarana dan prasarana sekolah secara merata. Jika full day school diterapkan terutama di sekolah yang tersebar di pelosok desa-desa,yang fasilitas dan sarana prasarananya masih jauh dari kata memadahi, tentunya hal ini akan membuat siswa jenuh. Jika anak dipaksakan untuk tinggal di sekolah sampai sore hari dengan kondisi prasarana sekolah yang tidak memadai tidak tertutup kemungkinan akan memunculkan kejenuhan bagi siswa, bahkan sebagian memilih untuk tidak sekolah. Ketiga, belum tersedianya transportasi yang mencukupi. Penerapan full day schoolakan berdampak padasiswa yang ada di pedesaan dan jauh dari akses transportasi yang bisa digunakan untuk berangkat dan pulang dari sekolah. Tidak jarang, sampai saat ini di Wonosobo masih terdapat siswa yang menempuh perjalanan kaki berkilo-kilo meter untuk sampai di sekolah. Jika full day school diterapkan, tidak tertutup kemungkinan, siswa semacam ini akan sampai di rumah saat matahari telah terbenam, bahkan telah larut malam sehingga anak kecapekan dan waktu istirahat terbatas.

Keempat, menambah beban ekonomi orang tua. Kita tidak dapat menutup mata bahwa kondisi ekonomi orang tua siswamasih banyak yang berada dalam level ekonomi dibawah garis kemiskinan akan kesulitan membiayai sekolah anaknya, yang jika biasanya siswa yang kurang mampu tak perlu membawa uang jajan ke sekolah namun jika full day school diterapkan maka mau tidak mau,siswa harus membawa uang jajan, itupun kalau orang tua mampu setiap hari memberikan uang jajan anaknya. Belum lagi yang biasanya uang jajan cukup Rp. 3.000, misalnya, dengan penerapan full day school, uang jajan pasti akan bertambah menjadi Rp. 5.000. Selain itu, tradisi di pedesaan, sepulang sekolah, anak-anak tidak jarang yang diajak ke ladang, kebun atau sawah untuk sekedar dikenalkan dengan alam dan sesekali membantu orang tau bekerja, sambil bermain.Namun jika full day school berlaku, maka anak akan tercerabut dari alamnya dan menjadi generasi yang “melangit” yang penuh dengan teori. Termasuk juga, dengan adanya kebijakan ini, otomatis ada konsekuensi yang harus ditanggung orang tua, yakni kehilangan dukungan tenaga yang berpotensi mempengaruhi pendapatan.

Kelima, –dan ini yang paling berbahaya, bagi saya- full day schooldapat mematikan  keberadaan Madin, TPQ dan Pondok Pesantren. Kita tidak bisa menutup mata bahwa keberadaan Madrasah Diniyah (Madin), Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) dan Pondok Pesantren di Indonesia sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat untuk mengajarkan pendidikan agama (tafaqquh fiddin). Pendidikan yang dikelola oleh masyarakat ini diselenggarakan setiap hari, seusai anak-anak sekolah formal.Di kalangan umat Islam, dikenal bahwa persoalan pendidikan (baca: sekolah), tidak semata persoalan kepintaran (afektif) semata, namun ada yang lebih penting, yakni menanamkan akhlak mulia, mengajarkan nilai kejujuran, ketakdhiman (hormat) terhadap guru/kiai, kesederhanaan, kerelaan mengabdi, cinta Tanah Air, dan karakter lainnya yang itu semua telah diperankan oleh Madin, TPQ atau Pondok Pesantren. Pun demikian, keberadaaan Madin, TPQ dan Pondok Pesantren, sangat membantu siswa dalam memahami dan mendalami pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah.

Jika kebijakan full day school diterapkan, bagaimana nasib pendidikan agama anak-anak? Jika pun di sekolah didirikan lembaga semacam Madin atau TPQ, bagaimana pula nasib lembaga asli nusantara ini yang telah ada? Hal inilah semestinya yang perlu dijadikan sebagai salah satu bahan uji publik, sebelum kebijakan ini benar-benar digulirkan.

Jangan sampai kebijakan full day school ini dapat mematikan potensi siswa, membebani orang tua, dan mengebiri keberadaan lembaga pendidikan agama dan keagamaan yang dikelola masyarakat. Masih banyak persoalan krusial yang dihadapi dunia pendidikan saat ini dan butuh penanganan segera daripada sekedar gonta-ganti kurikulum dan kebijakan.

Kualitas tenaga pengajar, fasilitas pendidikan yang belum memadaidan ketimpangan mutu pendidikan di berbagai tempat di daerah turut menjadi persoalan yang seharusnya diprioritaskan dan bisa segera mendapat solusi, bukan?

 

*) Penulis adalah Sekretaris PC LP Ma’arif NU Kabupaten Wonosobo dan Ketua KKG PAI Kabupaten Wonosobo.